ASYURA ANTARA YOM KIPPUR DAN PASSOVER

Sebuah Tinjauan Astronomis

Oleh: Hendro Setyanto

Puasa Asyura pada tanggal 10 Muharram merupakan salah satu ibadah yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rasulullah SAW tidak hanya melaksanakan puasa tersebut, tetapi juga menganjurkan para sahabat untuk mengerjakannya. Menariknya, latar belakang puasa Asyura berkaitan dengan tradisi puasa yang dilakukan oleh komunitas Yahudi di Madinah.

Selama ini, para ulama dan sejarawan umumnya mengidentifikasi puasa Yahudi yang dimaksud sebagai Yom Kippur, yaitu Hari Penebusan Dosa yang diperingati setiap tanggal 10 Tishri dalam kalender Ibrani. Meski demikian, tidak sedikit yang mempertanyakan apakah puasa umat Yahudi Madinah yang dimaksud berkaitan dengan Yom Kippur atau justru dengan Passover (Pesach).

Pertanyaan tersebut muncul karena hadis-hadis tentang Asyura mengaitkan peristiwa itu dengan keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari Fir'aun. Tema tersebut tampak lebih dekat dengan peristiwa Eksodus, yaitu keluarnya Bani Israil dari Mesir, yang diperingati dalam perayaan Passover, daripada dengan tema utama Yom Kippur yang berfokus pada pertobatan dan penebusan dosa.

Menariknya, kajian sejarah kalender dan astronomi justru menunjukkan bahwa pelaksanaan Asyura pada masa Nabi SAW mungkin memiliki kedekatan musiman dengan perayaan Passover.

Hadis-Hadis tentang Asyura

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA:

Ketika Nabi  tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka ditanya tentang alasan puasa tersebut. Mereka menjawab, "Hari ini adalah hari ketika Allah memberikan kemenangan kepada Musa dan Bani Israil atas Fir'aun." Rasulullah  bersabda, "Kami lebih berhak atas Musa daripada kalian." Kemudian beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa.

Dalam riwayat lain disebutkan:

Ketika Rasulullah SAW berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa, mereka berkata, "Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani." Maka Rasulullah SAW bersabda, "Apabila datang tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan." Namun sebelum datang tahun berikutnya, Rasulullah SAW telah wafat.

Hadis pertama menjelaskan alasan puasa Asyura, yaitu sebagai ungkapan syukur atas keselamatan Nabi Musa AS dan Bani Israil dari Fir'aun. Hadis kedua menunjukkan bahwa hari tersebut memiliki kedudukan penting di kalangan Yahudi dan Nasrani serta merupakan puasa Asyura terakhir yang dilaksanakan oleh Nabi Muhammad SAW.

Yom Kippur atau Passover?

Mayoritas literatur mengidentifikasi puasa yang dilakukan kaum Yahudi Madinah sebagai Yom Kippur. Hari raya ini diperingati setiap tanggal 10 Tishri, bulan ketujuh dalam kalender Ibrani, dan dikenal sebagai Hari Penebusan Dosa.

Namun, terdapat beberapa persoalan yang patut dicermati.

Pertama, tema utama Yom Kippur adalah pertobatan, pengampunan dosa, dan penebusan. Perayaan ini tidak secara khusus memperingati pembebasan Bani Israil dari Mesir sebagaimana disebutkan dalam hadis. Peristiwa yang lebih dekat dengan tema hadis adalah Eksodus, yaitu keluarnya Bani Israil dari perbudakan Mesir di bawah kepemimpinan Nabi Musa AS. Peristiwa tersebut diperingati dalam hari raya Pesach atau Passover yang berlangsung pada bulan Nisan, bulan pertama dalam kalender Yahudi.

Kedua, hadis menyebutkan bahwa hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dalam tradisi Kristen, Yom Kippur tidak memiliki posisi yang menonjol. Sebaliknya, Paskah Kristen memiliki hubungan historis yang sangat erat dengan Passover Yahudi karena peristiwa penyaliban dan kebangkitan Yesus terjadi berdekatan dengan perayaan tersebut.

Dengan demikian, baik dari sisi tema peringatan maupun hubungan dengan tradisi Nasrani, terdapat alasan untuk mempertimbangkan bahwa hari yang disaksikan Nabi SAW di Madinah mungkin lebih dekat dengan Passover daripada dengan Yom Kippur.

Kronologi Sejarah

Hadis pertama terjadi setelah hijrah ke Madinah. Nabi Muhammad SAW tiba di Madinah pada bulan Rabiul Awal, dan tahun hijrah tersebut kemudian dijadikan sebagai tahun pertama Hijriah (1H). Karena kedatangan beliau terjadi setelah Muharram tahun tersebut berlalu, maka peristiwa puasa Asyura yang pertama kali diperintahkan kepada kaum Muslimin diperkirakan terjadi pada Muharram tahun kedua Hijriah (2H).

Adapun hadis kedua terjadi menjelang wafat Nabi SAW. Dalam hadis tersebut, Rasulullah SAW menyatakan keinginannya untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram pada tahun berikutnya. Namun, beliau wafat pada bulan Rabiul Awal tahun 11H sehingga tidak sempat melaksanakan niat tersebut. Dengan demikian, peristiwa tersebut diperkirakan terjadi pada Muharram 11H, yaitu Muharram terakhir yang dijumpai Rasulullah SAW sebelum wafatnya.

Dalam rentang waktu antara kedua hadis tersebut, Rasulullah SAW dan kaum Muslimin menjumpai sepuluh kali bulan Muharram dan melaksanakan puasa Asyura sebanyak sepuluh kali, yaitu dari Muharram 2H hingga Muharram 11H.

Sistem Kalender Arab Sebelum Penghapusan Nasi'

Untuk memahami hubungan antara bulan Muharram dan kalender Yahudi, terlebih dahulu perlu dipahami sistem kalender Arab sebelum pelaksanaan Haji Wada'.

Pada masa itu, bangsa Arab belum menggunakan kalender lunar murni sebagaimana kalender Hijriah saat ini. Mereka mengenal praktik nasi', yaitu penyesuaian kalender melalui penyisipan bulan tertentu (interkalasi) agar bulan-bulan tetap berkaitan dengan musim. Praktik ini menyebabkan Muharram, Ramadan, Dzulhijjah, dan bulan-bulan lainnya tidak terus bergeser terhadap tahun tropis sebagaimana yang terjadi pada kalender Hijriah modern.

Praktik serupa juga diterapkan dalam kalender Ibrani melalui sistem interkalasi, yaitu penyisipan bulan tambahan untuk mempertahankan kesesuaian kalender dengan siklus musim. Dengan demikian, selama praktik nasi' masih berlaku, kalender Arab dan kalender Yahudi sama-sama memiliki mekanisme yang menjaga keterkaitannya dengan tahun matahari.

Kondisi tersebut membuka kemungkinan bahwa pelaksanaan Asyura dan hari-hari penting lainnya dalam kalender Arab sering kali bertepatan dengan hari-hari puasa atau peringatan tertentu dalam tradisi Yahudi. Kemungkinan ini diperkuat oleh riwayat para sahabat yang menyatakan bahwa hari Asyura juga diagungkan oleh kaum Yahudi dan Nasrani.

Apabila keselarasan waktu tersebut hanya terjadi sesekali akibat pergeseran kalender lunar murni, maka kecil kemungkinan akan terbentuk persepsi yang begitu kuat di kalangan para sahabat mengenai keterkaitan antara Asyura dan tradisi keagamaan Yahudi maupun Nasrani. Oleh karena itu, konsistensi hubungan kalender selama periode berlakunya nasi' patut dipertimbangkan sebagai salah satu faktor yang melatarbelakangi munculnya riwayat-riwayat tersebut, meskipun hal ini masih memerlukan kajian historis dan astronomis yang lebih mendalam.

Tinjauan Astronomis

Untuk menelusuri hubungan antara kalender Hijriah awal dan kalender Yahudi, titik acuan yang digunakan adalah peristiwa pelarangan nasi' yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dalam Khutbah Wada' pada hari Jumat, 9 Dzulhijjah 10H. Berdasarkan konversi menggunakan Kalender Julian dan Kalender Islam Hijriyah Mandiri (KHIM), tanggal tersebut bersesuaian dengan 6 Maret 632 M.

Apabila tanggal tersebut dikonversi ke kalender Yahudi, maka bulan Dzulhijjah 10H berkorespondensi dengan bulan Veadar tahun 4392. Dalam kalender Yahudi, Veadar merupakan bulan interkalasi (bulan ke-13) yang hanya muncul pada tahun kabisat. Dengan demikian, bulan berikutnya, yaitu Muharram 11H, berkorespondensi dengan bulan Nisan 4392.

Temuan ini menarik karena Nisan merupakan bulan berlangsungnya perayaan Passover (Pesach), salah satu perayaan terpenting dalam tradisi Yahudi. Sebaliknya, Yom Kippur diperingati pada tanggal 10 Tishri, yang berada sekitar enam bulan setelah Nisan. Oleh karena itu, apabila hasil konversi tersebut benar merepresentasikan kondisi kalender Arab menjelang penghapusan nasi', maka terdapat kemungkinan bahwa peringatan Asyura pada masa Nabi SAW berlangsung pada suatu periode yang secara musiman lebih dekat dengan Passover daripada dengan Yom Kippur.

Analisis ini menjadi semakin menarik ketika dikaitkan dengan rekonstruksi astronomis menjelang tahun 11 Hijriah. Perhitungan astronomis menunjukkan bahwa ijtimak yang menandai akhir tahun 10 Hijriah terjadi ketika Matahari dan Bulan berada di sekitar titik Vernal Equinox, yaitu titik yang menandai awal musim semi di belahan bumi utara. Musim semi secara tradisional juga berkaitan erat dengan bulan Nisan dalam kalender Yahudi, karena penetapan bulan Nisan diupayakan agar selalu berada pada musim tersebut.

Korespondensi antara Muharram 11H dan Nisan 4392, serta kedekatan waktu ijtimak dengan Vernal Equinox, menunjukkan bahwa awal siklus Hijriah 11H dimulai pada suatu konfigurasi astronomis yang bertepatan dengan awal musim semi dan dengan bulan Nisan dalam kalender Yahudi. Dengan demikian, awal kalender Hijriah setelah penghapusan nasi' tampak muncul pada suatu konfigurasi astronomis yang sejalan dengan permulaan siklus musim semi di belahan bumi utara. Temuan ini dapat menjadi petunjuk penting dalam merekonstruksi hubungan antara kalender Arab pra-reformasi dan kalender Hijriah pasca-penghapusan nasi', sekaligus memberikan dasar historis dan astronomis bagi penetapan Muharram 11H sebagai awal siklus kalender Hijriah mandiri.

Kesimpulan

Identifikasi Asyura dengan Yom Kippur telah menjadi pendapat yang dominan dalam banyak literatur Islam. Namun, apabila hadis-hadis tentang Asyura ditelaah dari sudut pandang sejarah kalender dan astronomi, muncul sejumlah pertanyaan yang belum sepenuhnya terjawab.

Tema pembebasan Bani Israil dari Mesir yang disebutkan dalam hadis tampak lebih dekat dengan makna Passover dibandingkan dengan Yom Kippur. Selain itu, hasil konversi kalender menunjukkan bahwa Muharram 11H, sebagai awal siklus kalender Hijriah setelah penghapusan nasi', berkorespondensi dengan Nisan 4392 kalender Ibrani, yaitu bulan berlangsungnya perayaan Passover.

Keberadaan sistem nasi' pada kalender Arab sebelum Haji Wada' juga menunjukkan bahwa hubungan antara bulan-bulan Arab dan siklus musim pada masa Nabi SAW kemungkinan masih cukup kuat, sebagaimana pada kalender Yahudi. Oleh karena itu, hubungan antara Asyura dan Passover layak dipertimbangkan sebagai sebuah hipotesis historis yang memerlukan kajian lebih lanjut.

Selamat menunaikan Puasa Asyura 1448H. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa kita yang telah lalu serta menumbuhkan kembali semangat hijrah dalam memperbaiki diri, keluarga, dan masyarakat di sekitar kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *