PURNAMA,  AYYAMUL BIDH & KALENDER HIJRIYYAH

Hendro Setyanto


Rasulullah SAW bersabda :
"Wahai Abu Dzar, apabila engkau berpuasa tiga hari dalam sebulan, maka berpuasalah pada tanggal 13, 14, dan 15." (HR At-Tirmidzi, An-Nasa'i)  

Purnama, atau fase bulan purnama, merupakan salah satu fase dalam siklus bulan yang paling sering diamati oleh manusia. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain bentuk Bulan yang tampak bulat sempurna dan cahayanya yang terang di tengah gelapnya malam, serta lamanya Bulan berada di langit malam sejak matahari terbenam hingga matahari terbit. Purnama terjadi ketika posisi Bulan berada di sisi yang berlawanan dengan Matahari, sehingga Bulan terbit bersamaan dengan terbenamnya Matahari dan terbenam bersamaan dengan terbitnya Matahari.

Sama seperti siklus dari satu ijtimak (konjungsi) ke ijtimak berikutnya yang sering disebut sebagai satu lunasi, siklus dari purnama ke purnama juga berlangsung selama rata-rata 29,53 hari. Namun, angka tersebut hanyalah nilai rata-rata; dalam kenyataannya, periode ini dapat lebih pendek atau lebih panjang, yakni berkisar antara 29,27 hingga 29,83 hari. Gambar 1 memperlihatkan pola perubahan periode sinodis Bulan selama 1200 tahun yang sangat menarik dan teratur. Pola tersebut menunjukkan keteraturan yang indah.

Gambar 1. Pola perubahan periode sinodis Bulan yang menjadi dasar penanggalan bulan, seperti kalender Hijriyyah.

Panjang periode sinodis tersebut juga dapat disebut sebagai umur bulan, yaitu waktu yang dihitung sejak ijtimak hingga ijtimak berikutnya. Dengan demikian, ketika kita menyebut lunasi bulan adalah 29,53 hari, yang dimaksud adalah umur bulan yang dihitung dari ijtimak pertama hingga ijtimak berikutnya.

Jika umur bulan untuk satu lunasi bervariasi antara 29,27 hingga 29,83 hari, lalu berapa usia Bulan saat terjadi purnama? Purnama sering dianggap sebagai titik tengah dari fase bulan, sehingga banyak yang menyimpulkan bahwa usia purnama berkisar antara 14,635 hingga 14,915 hari dan kemudian menyederhanakannya menjadi 14–15 hari. Benarkah demikian?

Jika kita cermati, Bulan tidak mengorbit Bumi yang diam. Saat Bulan bergerak mengelilingi Bumi, Bumi juga bergerak mengorbit Matahari. Orbit Bulan mengelilingi Bumi bukanlah lingkaran sempurna, melainkan elips, yang menyebabkan posisi Bulan kadang berada di titik terdekat (perigee) dan kadang di titik terjauh (apogee) dari Bumi. Demikian pula Bumi kadang berada di titik terdekat (perihelion) dan kadang di titik terjauh (aphelion) dari Matahari. Akibatnya, kecepatan gerak Bulan tidak seragam selama mengelilingi Bumi; ia kadang cepat dan kadang lambat. Karena itu, dapat dipastikan bahwa purnama bukanlah titik tengah dari periode sinodis.

Yang menarik, interval waktu dari ijtimak ke purnama terkadang lebih panjang daripada dari purnama ke ijtimak berikutnya, dan sebaliknya, dengan pola perubahan yang berulang setiap 7 lunasi.

Dalam upaya menelusuri usia purnama selama 1200 lunasi, kami memplot usia purnama selama periode tersebut. Gambar 2 menunjukkan pola usia purnama selama 1200 tahun yang mirip dengan pola periode sinodis pada Gambar 1. Secara statistik, diperoleh usia purnama minimal 13,83 hari, rata-rata 14,77 hari, dan maksimal 15,65 hari. Perlu diingat bahwa usia purnama tersebut dihitung sejak ijtimak sebelum purnama terjadi.

Dalam konteks kalender Hijriyyah, di mana tanggal 1 dimulai sehari setelah ijtimak, maka Purnama dapat terjadi pada tanggal 13, 14, dan 15.

Di sinilah kita melihat korelasi antara purnama dan Ayyamul Bidh, di mana Nabi Muhammad SAW sangat menganjurkan umatnya untuk berpuasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulannya. Ayyamul Bidh tidak semata bentuk dan cahaya Bulan yang terkesan putih, namun juga tanggal-tanggal dimana Purnama dapat terjadi. Karena gerhana bulan merupakan bagian dari fenomena purnama, maka gerhana bulan juga dapat terjadi pada malam tanggal 13, 14, atau 15.

Perlu diingat bahwa hitungan hari dalam kalender Hijriyyah dimulai sejak matahari terbenam. Di bulan Ramadhan, malam pertama adalah malam saat salat Tarawih dilaksanakan, sebelum puasa esok harinya dimulai.

STATISTIK PURNAMA 235 TAHUN

Fenomena purnama yang jatuh pada Ayyamul Bidh dapat digunakan sebagai uji kesesuaian suatu kriteria kalender dengan fakta alam. Dengan demikian, kita dapat menyatakan bahwa sistem kalender yang ideal adalah jika purnama terjadi pada tanggal 13, 14, atau 15. Untuk menguji hal tersebut, kami mensimulasikan sejumlah kriteria pada 2820 purnama (235 tahun) untuk melihat distribusi pada tanggal berapa purnama terjadi.

Tabel 1. Distribusi purnama di Ayyamul Bidh berdasarkan kriteria kalender yang digunakan

TanggalNeo MabimsWujudul HilalKriteria 29
120%0%0%
137,87%0,53%15,6%
1444,40%36,45%46,7%
1543,48%47,09%37,45%
164,26%15,92%0,25%

Dari Tabel 1 di atas, kita dapat melihat bahwa ada kalanya purnama terjadi pada tanggal 16 dengan proporsi yang berbeda untuk setiap kriteria yang digunakan. Tentu semakin kecil Prosentasenya menunjukkan kriterianya yang digunakan sejalan dengan realitas alam. Distribusi tersebut tentu dapat berubah tergantung pada sejumlah parameter perhitungan, seperti lokasi yang dijadikan acuan, cakupan wilayah yang digunakan, dan lain sebagainya.

وَٱللَّهُ أَعْلَمُ بِحِسَابِهِ

Benda, 9 Ramadhan 1447 H

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *