Hendro Setyanto
تحروا ليلة القدر في الوتر من العشر الأواخر من رمضان
“Carilah Lailatul Qadr pada malam-malam ganjil dari sepuluh malam terakhir bulan Ramadan.”
Rasulullah SAW mengabarkan kepada para sahabat tentang malam Lailatul Qadr. Beliau bersabda bahwa malam tersebut berada pada bulan Ramadan, khususnya pada sepuluh malam terakhir, yaitu malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Barang siapa menghidupkan malam itu dengan ibadah karena iman dan mengharap ridha Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (HR. Ahmad)
Dua hadis di atas menunjukkan bahwa Lailatul Qadr hadir pada setiap bulan suci Ramadan dan berada pada malam-malam ganjil, yaitu malam 21, 23, 25, 27, dan 29. Pada malam-malam tersebut Rasulullah SAW memerintahkan umat Islam untuk mencarinya dan menghidupkannya dengan ibadah, dengan penuh iman serta mengharap pahala dari Allah SWT agar dosa-dosa yang telah lalu diampuni.
Malam 21 Hijriyah yang merupakan malam ganjil pertama, dapat ditandai dengan fase bulan kuartil akhir yang terbit saat tengah malam. Hal ini menjadikan Bulan masih dapat dilihat di dekat meridian (di atas kepala) saat matahari terbit.
Kesaksian tentang Lailatul Qadr
Pertanyaannya kemudian adalah: seperti apakah malam Lailatul Qadr itu? Apakah malam tersebut dapat dikenali ketika seseorang mengalaminya?
Sebagai orang yang meyakini kenabian Nabi Muhammad SAW, perintah beliau untuk mencari Lailatul Qadr menunjukkan bahwa malam tersebut benar-benar ada dan dapat dikenali atau dirasakan. Hal ini dapat dipahami dari sejumlah kesaksian para ulama dan orang saleh, di antaranya:
1. Kesaksian Ubay bin Ka‘ab
Sahabat Nabi, Ubay bin Ka‘ab, meyakini bahwa beliau pernah mengalami Lailatul Qadr pada malam ke-27 Ramadan. Beliau berkata:
والله إني لأعلم أي ليلة هي، هي الليلة التي أمرنا رسول الله ﷺ بقيامها، هي ليلة سبع وعشرين
“Demi Allah, aku benar-benar mengetahui malam itu. Itulah malam yang Rasulullah perintahkan kepada kami untuk menghidupkannya, yaitu malam ke-27.”
2. Kesaksian Hasan al-Basri
Beliau berkata:
“Aku pernah menyaksikan Lailatul Qadr pada malam yang sangat tenang, tidak panas dan tidak pula dingin.”
3. Kesaksian Sufyan al-Thawri
Beliau berkata:
“Pada malam itu aku merasakan ketenangan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.”
4. Kisah ‘Abd al-Qadir al-Jilani
Dalam tradisi tasawuf disebutkan bahwa beliau pernah berkata kepada murid-muridnya:
“Aku pernah melihat cahaya memenuhi langit pada malam itu, dan hati para hamba yang beribadah dipenuhi ketenangan.”
5. Kisah Ibrahim ibn Adham
Beliau pernah berkata:
“Malam ini adalah malam yang berbeda dari malam-malam lainnya; hati terasa dipenuhi cahaya.”
Ada pula kisah pengalaman seseorang yang merasakan malam Lailatul Qadr. Ia menceritakan bahwa pada suatu malam ia terjebak kemacetan lalu lintas. Tiba-tiba ia merasakan rasa dingin pada kedua kakinya yang semula ia kira berasal dari pendingin udara mobil. Namun ketika rasa dingin tersebut mencapai dada kirinya, ia merasakan kenikmatan spiritual yang luar biasa, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Di tengah kemacetan itu, ia merasakan ketenangan batin yang sangat mendalam hingga air matanya mengalir tanpa terasa. Ia bahkan berkata kepada temannya yang sedang mengemudi bahwa malam itu kemungkinan adalah malam Lailatul Qadr. Perasaan damai dan kenikmatan tersebut terus ia rasakan hingga waktu subuh.
Dari berbagai kesaksian tersebut dapat disimpulkan bahwa Lailatul Qadr merupakan malam yang benar-benar ada dan dapat dirasakan, baik secara inderawi maupun secara ruhani (qalbi).
Metode Imam al-Ghazali
Dari berbagai pengalaman spiritual, tampaknya Imam al-Ghazali melakukan pengamatan empiris dan mengaitkan waktu terjadinya Lailatul Qadr dengan hari pertama bulan Ramadan. Hasil pengamatan tersebut dinyatakan sebagai berikut:
قال الغزالي وغيره إنها تعلم فيه باليوم الأول من الشهر،
فإن كان أوله يوم الأحد أو يوم الأربعاء: فهي ليلة تسع وعشرين.
أو يوم الاثنين: فهي ليلة إحدى وعشرين.
أو يوم الثلاثاء أو الجمعة: فهي ليلة سبع وعشرين.
أو الخميس: فهي ليلة خمس وعشرين.
أو يوم السبت: فهي ليلة ثلاث وعشرين.
Imam al-Ghazali dan ulama lainnya menyatakan bahwa malam Lailatul Qadr dapat diperkirakan dari hari pertama bulan Ramadan.
- Jika awal Ramadan jatuh pada Ahad atau Rabu, maka Lailatul Qadr pada malam ke-29.
- atau pada Senin, maka Lailatul Qadr pada malam ke-21.
- atau pada Selasa atau Jumat, maka Lailatul Qadr pada malam ke-27.
- atau pada Kamis, maka Lailatul Qadr pada malam ke-25.
- atau pada Sabtu, maka Lailatul Qadr pada malam ke-23.
Siklus Malam Lailatul Qadr
Untuk memudahkan dalam memahami siklus tersebut, kita dapat menampilkannya dalam bentuk tabel 1 berikut:
Tabel 1. Prediksi Malam Lailatul Qadr menurut Imam al-Ghazali
| No | Awal Bulan | Malam Lailatul Qadr |
| 1 | Ahad | 29 |
| 2 | Senin | 21 |
| 3 | Selasa | 27 |
| 4 | Rabu | 29 |
| 5 | Kamis | 25 |
| 6 | Jumat | 27 |
| 7 | Sabtu | 23 |
Dari tabel tersebut terlihat bahwa malam ke-27 dan 29 memiliki peluang lebih besar, yaitu dua dari tujuh kemungkinan (sekitar 29%). Sementara malam ke-21, 23, dan 25 masing-masing memiliki peluang sekitar 14%. Tidak mengherankan apabila banyak jamaah i‘tikaf lebih memberi perhatian pada malam ke-27 dan 29, karena jika keduanya digabungkan peluangnya mendekati 60%.
Analisis Matematis Kalendris
Siklus pekan dalam kalender Hijriah yang terdiri dari tujuh hari memungkinkan kita mengetahui hari pada tanggal tertentu jika hari pada tanggal pertama telah diketahui. Sehingga dengan mengetahui hari pada tanggal 1 Ramadhan, maka kita dapat mengetahui hari pada malam-malam ganjilnya. Pada tabel 2 di kolom Hari LQ dapat dilihat hari Lailatul Qodr berdasar hari awal Ramadhannya. Dapat dilihat dari hari awal Ramadhan, Lailatul Qodr terjadi hanya pada hari Ahad (5) dan Rabu (2).
Adapun untuk melihat pola matematisnya, kita perlu memberikan nilai numerik pada setiap hari sesuai namanya :
- Ahad = 1
- Senin = 2
- Selasa = 3
- Rabu = 4
- Kamis = 5
- Jumat = 6
- Sabtu = 7
Selanjutnya kita definisikan Indeks LQ sebagai penjumlahan antara nilai hari awal Ramadan dan tanggal Lailatul Qadr.
Tabel 2. Hari dan Indeks Lailatul Qadr
| No | Awal Bulan | Nilai Hari | Tanggal LQ | Hari LQ | Indeks LQ |
| 1 | Ahad | 1 | 29 | Ahad | 30 |
| 2 | Senin | 2 | 21 | Ahad | 23 |
| 3 | Selasa | 3 | 27 | Ahad | 30 |
| 4 | Rabu | 4 | 29 | Rabu | 33 |
| 5 | Kamis | 5 | 25 | Ahad | 30 |
| 6 | Jumat | 6 | 27 | Rabu | 33 |
| 7 | Sabtu | 7 | 23 | Ahad | 30 |
Dari tabel tersebut terlihat adanya pola 30 dan 33. Jika indeks ini dipandang sebagai konstanta, maka tanggal Lailatul Qadr dapat dihitung dengan rumus sederhana:
Malam LQ = Konstanta − Nilai Hari
dengan:
- Konstanta = 30 untuk hari ganjil
- Konstanta = 33 untuk hari genap
Sebagai contoh, jika awal Ramadan 1447 H jatuh pada Kamis (5, hari ganjil, konstanta 30), maka:
Malam LQ = 30 − 5 = 25
Artinya Lailatul Qadr terjadi pada malam 25 Ramadan 1447H
Jika awal Ramadan jatuh pada Senin (2, hari genap, Konstanta 33) maka:
Malam LQ = 33 − 2 = 31
karena tidak ada malam ke-31 dalam Kalender hijriyah, maka siklus kembali ke malam 21 yang merupakan malam ganjil pertama dalam sepuluh hari terakhir.
Empirik atau Matematis?
Abu Hamid Muhammad al-Ghazali (1058–1111 M) merupakan seorang ulama besar abad ke-11. Karyanya Ihya’ ‘Ulum al-Din menjadi salah satu karya monumental dalam tradisi intelektual Islam. Beliau juga dikenal sebagai pengajar utama di Madrasah Nizamiyyah Baghdad.
Meskipun tidak dikenal sebagai ahli falak (astronomi), al-Ghazali menulis kitab Maqasid al-Falasifah, yang membahas logika, fisika, dan metafisika. Hal ini menunjukkan bahwa beliau memiliki pemahaman yang kuat tentang logika dan penalaran rasional.
Dari uraian di atas tampak bahwa pola prediksi Lailatul Qadr menurut Imam al-Ghazali memiliki keteraturan matematis. Pertanyaannya kemudian adalah: apakah pola ini disusun oleh Imal al-Ghozlie secara matematis, berdasarkan pengamatan empiris, atau kombinasi keduanya?
Yang pasti, dalam sebuah hadist dikisahkan, Nabi pernah akan memberitahukan kapan waktunya Lailatul Qodr, namun dibatalkan karena ada pertengkaran.
“Aku keluar untuk memberitahukan kepada kalian tentang malam Lailatul Qadr. Namun dua orang lelaki dari kaum Muslimin saling bertengkar, sehingga pengetahuan tentangnya diangkat (tidak diberitahukan secara pasti). Mudah-mudahan itu justru lebih baik bagi kalian. Maka carilah Lailatul Qadr pada malam ke-9, ke-7, dan ke-5 (dari sepuluh malam terakhir).”
sebagaimana dinyatakan dalam hadis Nabi di atas, Lailatul Qadr dapat terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan, dan Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk mencarinya.
Semoga kita termasuk orang-orang yang diberi kesempatan kembali untuk mencari dan menjumpai malam Lailatul Qadr. Jika kita mendapatkannya, jangan lupa untuk membanyak doa yang diajarkan Nabi kepada Ibunda Aisyah:
اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ العَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
“Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Ya Allah, pertemukan kami dengan Lailatul Qadr
والله أعلم
Lembang, 17 Ramadan 1447 H
